Aplikasi Fake Caller ID Dipakai untuk Bobol Kartu Kredit

Aplikasi fake caller ID disalahgunakan oknum tak bertanggung jawab! Di zaman canggih sekarang ini, tersedia ribuan aplikasi yang bermacam-macam kegunaannnya. Saking banyaknya aplikasi yang ada, user tidak mengetahui kegunaan dari suatu aplikasi. Selain itu, tak semua aplikasi yang tersedia di Appstore atau Playstore bermanfaat untuk kebaikan, nyatanya ada pula yang dimanfaatkan untuk kejahatan.

Contoh yang baru-baru ini terjadi adalah ditangkapnya pembobol kartu kredit oleh Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya, para pelaku diketahui menggunakan aplikasi Fake Caller ID untuk menghubungi calon korban.

Adapun para pelaku yang berhasil ditangkap polisi masing-masing bernama Enos (19), Frans (31), yang merupakan ayahnya, Eldin (21), Fit (37), BRS (42), dan Bedu (42). Para pelaku ditangkap di Palembang pada hari Minggu (9/9). Saat ini polisi masih mengejar 3 pelaku lain yang masih buron, yaitu I, W, dan R yang ketiganya merupakan oknum yang menjual data kartu kredit nasabah.

Aplikasi Fake Caller ID dimanfaatkan untuk Menelepon Calon Korban

Melalui aplikasi Fake Caller ID, para pelaku menelepon calon korban mereka yang merupakan nasabah kartu kredit. Sebelumnya, Enos bertugas membeli data nasabah kartu kredit dari R yang merupakan pihak ketiga yang memasarkan kartu kredit sebuah bank. Dengan bermodalkan uang 500ribu rupiah, Enos memperoleh 3000 data nasabah kartu kredit.

Sesudah mendapatkan data-data tersebut, Enos bersama Frans, ayahnya, segera memilah-milah mana data yang masih aktif dan mana yang tidak aktif. Bila aktif, Enos akan segera menghubungi nomor telepon nasabah yang aktif kartu kredit dan berpura-pura sebagai Customer Service kartu kredit. Dengan aplikasi Fake Caller ID, nomor telepon Enos akan dikenali sebagai nomor telepon resmi dari bank.

Baca juga: Sri Mulyani Imbau Perbankan untuk ‘Melek’ Teknologi

Bila korban lengah, maka bisa terjerat dalam tipuan ini. Enos yang berpura-pura sebagai Customer Service kartu kredit akan mengatakan kepada calon korban bahwa ada transaksi mencurigakan di kartu kreditnya, lalu ia akan meminta tanggal expired beserta nomor CVV kartu kreditnya.

Lalu, Enos juga akan meminta kode OTP yang dikirimkan via sms ke nomor hape korban. Kode OTP tersebut kemudian diberikan kepada Fit dan I yang sudah siap melakukan transaksi pembelian pulsa di situs e-commerce. Pulsa yang dibeli tidak dalam nominal kecil, tapi dalam nominal besar hingga Rp 25 juta rupiah hanya dari satu korban. Pulsa yang telah dibeli kemudian dijual lagi kepada Y dengan harga murah.

Selain membobol kartu kredit, para pelaku juga beraksi dengan membobol tabungan korban dengan memindahkan rekening korban ke rekening W menggunakan mobile banking. Untuk aksi ini, Bedu merupakan pelakunya.

Para pelaku diketahui sudah melakukan aksinya sejak setahun yang lalu. Dari setahun beraksi, kemungkinan jumlah korban mencapai 50 orang, tapi yang sudah dipastikan ada 10 orang. Hanya dari 10 orang ini, para pelaku sudah meraup keuntungan hingga 135 juta rupiah.

Dalam kasus ini, pelaku dijerat dengan pasal 378 KUHP tentang penipuan, dan 363 KUHP tentang pencurian. Selain itu, diamankan pula uang tunai Rp 10.200.000, satu buah mobil, dan 17 ponsel.

Loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2015 Official PilihKartu.com Blog.