Dua Mahasiswa Indonesia Curi Data Kartu Kredit Ribuan Warga Negara Australia

Kasus curi data kartu kredit memang ramai akhir-akhir ini. Kali ini, dua orang mahasiswa Teknik sipil yang masing-masing bernama Dedek Saputra Chaniago dan Adhitya Rahmanl, terpaksa harus mendekam di balik jeruji dingin penjara akibat ulah mereka yang mencuri ribuan data kartu kredit Warga Negara Australia.

Direktur Tindak Pidana Kejahatan Siber Bareskrim Polri, Brigjen Albertus Rachmad Wibowo mengungkapkan keduanya ditangkap di lokasi yang berbeda-beda. Dedek ditangkap di Kelurahan Lingkar Selatan, Kecamatan Lengkong Bandung, Jawa Barat pada tanggal 6 Juni 2018, sementara Adhitya ditangkap di Asrama Mahasiswa Benuo Taka Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur di Yogyakarta pada tanggal yang sama.

Curi Data Kartu Kredit dengan Peralatan Standar

Polisi menyita beberapa barang bukti dari tersangka, yaitu: handpone, CPU, router, tabungan dan beberapa pakaian. Adapun penangkapan ini bermula dari surat Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Sydney yang kurang lebih menyatakan bahwa ada WNI bernama Stefani Angelina yang menjalani persidangan di Cairns, Australia.

Stefani Angelina dituduh sebagai penerima barang-barang yang dibeli secara online dari pelaku AR dengan menggunakan kartu kredit beberapa warga Australia. AR memanfaatkan Stefani yang berada di Australia sebagai penerima barang pesanan yang dikirimkan ke kantor pos terdekat, yakni di kawasan Mascot, New South Wales dan Cairns, Quensland.

Sesudah barang tersebut sampai di Indonesia, AR lantas meminta barang tersebut untuk dikirimkan ke alamat tersangka berinisial DSC dengan menggunakan ekspedisi pengiriman JNE. AR dan DSC sudah dua tahun melancarkan operasi kejahatan tersebut. Dalam kurun waktu dua tahun tersebut, AR dan DSC telah membobol kurang lebih 4000 data kartu kredit Warga Negara Australia.

AR dan DSC memanfaatkan aplikasi SQLi Dumper, yaitu aplikasi untuk mendapatkan data email dari para pembelanja online, di sebuah e-commerce. Setelah mendapatkan email, pelaku kemudian mengirimkan berita atau iklan lewat email. Korban yang terkecoh akan mengklik link pada berita atau iklan tersebut, lalu akan diarahkan ke halaman Paypal palsu.

Baca juga: Dua Teknik Kejahatan Melalui Kartu Kredit

Korban terkecoh oleh halaman Paypal tersebut dan mengisikan data kartu kredit, data diri, foto pribadi, foto kartu kredit depan belakang. Ketika sudah mendapatkan data kartu debit dan kartu kredit korban, pelaku bisa menggunakan data tersebut untuk berbelanja online.

Pelaku menggunakan data tersebut untuk berbelanja barang-barang secara online, seperti Go Pro, Kamera 360, aksesoris Go Pro, dan baju. Barang-barang tersebut kemudian dikirimkan ke WNI yang tinggal di Cairns, Queensland, New South Wales atas nama SA.

Atas kejahatan tersebut, kedua pelaku dijerat Pasal 362 KUHP dan 378 KUHP dengan ancaman kurungan di atas lima tahun.

Loading...
2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2015 Official PilihKartu.com Blog.