Ancaman ‘Joker Stash’ Situs Penjual Data Kartu Kredit, BI Diminta Waspada

Baru-baru ini publik dunia dikejutkan dengan munculnya sebuah situs yang menjual data-data transaksi kartu kredit dari seluruh dunia. Kurang lebih data transaksi kartu kredit nasabah bank dari 40 negara ada di dalamnya.

Kemunculan situs yang menyebut diri sebagai Joker Stash ini tentu membuat publik khawatir, tak hanya publik di Indonesia tapi juga di seluruh dunia. Bank Indonesia selaku regulator semua bank yang ada di Indonesia diminta untuk waspada dengan kemunculan Joker Stash ini.

Lembaga Riset dan Keamanan Siber (CISSReC) mengonfirmasi bahwa Joker Stash secara khusus menjual data-data kartu kredit, data transaksi pemakaian kartu kredit dan kartu debit. Lebih lanjut, pada bulan Oktober 2019 sebagian besar data transaksi kartu yang dijual merupakan data nasabah perbankan di India.

Baca juga: Buat PIN Yuk, Agar Transaksi Lebih Aman

CISSReC berharap semoga nasabah-nasabah kartu kredit maupun kartu debit di Indonesia tidak ada yang menjadi korban Joker Stash. Meski begitu, perlu ada tindakan untuk mencari tahu apakah ada korban carding Joker Stash yang berasal dari Indonesia.

Kemudian, pada tanggal 27 Januari 2020, marketplace Joker Stash mengeluarkan 4 daftar data transaksi kartu kredit. Menurut perkiraan, di dalamnya mengandung lebih dari 30 juta data transaksi dan mencakup data dari 40 negara di seluruh dunia. Akan tetapi, sebagian besar data transaksi berasal dari AS.

Lebih detil, data transaksi kartu di AS yang terkena carding Joker Stash ini sebagian besar adalah transaksi ritel dan transaksi di pom bensin AS, Wawa. Wawa merupakan peritel yang mirip dengan minimarket-minimarket di Indonesia, tapi mereka juga beroperasi dengan memiliki pom bensin.

Banyaknya penduduk AS yang bertransaksi di Wawa dan pom bensinnya, membuat ia menjadi target utama carding Joker Stash. Diperkirakan lebih dari 30 juta data transaksi kartu di Wawa berhasil dicuri oleh Joker Stash.

Wawa sendiri melalui situs resminya sudah mengingatkan pelanggannya akan potensi fraud ini. Para pelanggan kemudian dianjurkan untuk melakukan langkah-langkah pencegahan seperti melakukan pengecekan ke bank dan mengubah beberapa data pada kartu mereka.

CISSReC mengatakan bahwa sebetulnya praktik carding atau pencurian data transaksi kartu kredit memang sudah banyak terjadi. Selain kelemahan dari sistem keamanan menjadi faktor utama, para peretas menyadari bahwa data transaksi terutama kartu kredit merupakan data berharga yang pasti laku dijual.

Baca juga: Langkah Aman Berkartu Kredit

Pada bulan Oktober 2019, Joker Stash menawarkan data 1,3 juta kartu kredit dengan masing-masing kartu dibanderol sebesar US$100 per kartunya. Artinya, jika semua terjual, mereka bisa untung sebesar US$130 juta! Sebuah angka yang fantastis tentu saja!

Situs marketplace Joker Stash yang menjual data transaksi kartu kredit tidak bisa diakses dengan cara biasa karena letaknya di dark web. Untuk mengaksesnya, pengguna harus menggunakan TOR browser yang merupakan peramban khusus dark web. Selain itu, dibutuhkan juga pengetahuan dan kemampuan khusus agar diri sendiri tidak menjadi korban peretasan pihak lain.

CISSReC sangat merekomendasikan kepada Bank Indonesia untuk mengantisipasi fraud yang dilakukan oleh marketplace Joker Stash ini. Apalagi dari 4 daftar yang baru mereka keluarkan, ada satu file yang berisi data kartu kredit dari seluruh dunia, atau 40 negara.

Loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2015 Official PilihKartu.com Blog.