Mengapa Kebijakan Wajib Lapor Kartu Kredit Sebaiknya Ditiadakan Saja

Telah hampir 5 bulan semenjak kebijakan wajib lapor kartu kredit resmi diumumkan. Dalam perjalanannya, kebijakan Menkeu ini mengalami banyak tantangan. Mulai dari menurunnya jumlah pemegang kartu kredit, hingga menurunnya daya beli masyarakat.

Kartu kredit, Daya Beli Masyarakat, dan Pertumbuhan Ekonomi

Tentu ini bukan hal remeh, kartu kredit dan daya beli masyarakat adalah hal sentral dalam dunia finansial. Berbicara soal dunia finansial, tentu tak akan jauh dari pertumbuhan ekonomi. Ya, bila daya beli masyarakat rendah, maka pertumbuhan ekonomi akan melambat.

Menteri berganti, kebijakan bagaimana lagi?

Hingga kini, ketika susunan menteri kembali berganti, yang mengakibatkan turunnya Menkeu sebelumnya Bambang Brodjonegoro, dan naiknya kembali mantan menkeu kabinet Indonesia Bersatu di era SBY, Sri Mulyani, ke dalam jajaran menteri di bawah Jokowi. Pengusaha kembali menaruh harapan agar Sri Mulyani kembali mempertimbangkan kebijakan lapor kartu kredit ke Ditjen Pajak.

Bukan tanpa alasan, tetapi ada beberapa alasan yang membuat kebijakan wajib lapor kartu kredit ke Ditjen pajak sebaiknya ditiadakan saja, diantaranya:

Baca juga: 

1. Membuat pemegang kartu kredit ketakutan

Walau sudah berkali-kali diberitakan di media untuk tidak perlu khawatir dan tidak perlu takut bila data-data transaksinya ‘ditilik’ oleh Ditjen Pajak, tapi toh tetap saja nasabah kartu kredit masih ketakutan dan menutup kartu kreditnya. Nampaknya, nasabah tak mungkin sekedar ‘disetir’ oleh media, karena bagaimanapun mereka pasti bisa berpikir dengan baik dan memiliki pertimbangan tersendiri dari adanya kebijakan ini.

Jadi, daripada mengusik ketenangan para pemegang kartu kredit di Indonesia, kan lebih baik tidak usah saja. Ada banyak cara supaya penerimaan pajak negara bisa didongkrak.

2. Berlawanan dengan kampanye gerakan non tunai yang dicanangkan pemerintah

Ini agak aneh, pemerintah sejak beberapa tahun silam mengkampanyekan gerakan nasional non tunai, sebuah gerakan yang mengajak masyarakat untuk menggunakan transaksi non tunai. Ini karena perekonomian Indonesia masih berbasis uang tunai.

Padahal, gerakan non tunai yang digalakkan pemerintah itu ada banyak manfaatnya, yakni untuk mendukung Indonesia dalam perang melawan pencucian uang (money laundry), korupsi, peredaran uang palsu, serta mengurangi terorisme karena tidak mungkin pendanaan terorisme akan menggunakan uang elektronik.

Kartu kredit, adalah salah satu sarana pendukung gerakan non tunai pemerintah. Lalu, apa jadinya bila sekarang banyak yang menutup kartu kreditnya, lantaran enggan transaksi pribadinya ditilik oleh pajak?

Baca juga:

3. Berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi

Yang satu ini mungkin agak penting untuk diperhatikan, ini berhubungan dengan daya beli masyarakat. Beberapa pengusaha ritel di Indonesia mengaku semenjak peraturan wajib lapor kartu kredit ke Ditjen Pajak ini, pihaknya mengalami penurunan.

Ini bisa jadi lantaran banyak pemegang kartu kredit yang menutup kartu kreditnya. Mengapa dengan adanya kartu kredit, orang lebih banyak yang berbelanja? Tentu saja karena dengan kartu kredit, pembelanjaan lebih mudah dan lebih ringan, apalagi dengan adanya sistem cicilan 0%, diskon, cashback, dsb, yang membuat orang untuk tertarik berbelanja menggunakan kartu kredit, dibanding jenis kartu lainnya seperti kartu debit atau tunai.

Bila orang enggan berbelanja lagi, maka pengusaha bisa bangkrut, bila pengusaha bangkrut maka pendapatan negara juga terganggu. Bila pendapatan negara terganggu maka, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat.

Tentu kita tidak ingin itu terjadi. Jadi, daripada sekedar mendongkrak penerimaan pajak dari segi kartu kredit, lebih baik turut memajukan dunia pengusaha di Indonesia, lalu mengatur dan mengelola lebih baik lagi penerimaan pajak dari perusahaan-perusahaan.

Bagaimana menurut sobat? Apakah sobat setuju kalau aturan ini ditiadakan saja?

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2015 Official PilihKartu.com Blog.