Tahun Depan Bisnis Kartu Kredit Masih Lesu

Tahun ini, bisnis kartu kredit dinilai lesu, tahun depan kelesuan ini diprediksi masih akan tetap berlangsung. Mengapa? Para praktisi di bidang perbankan mulai memprediksikan gerak pertumbuhan kartu kredit di tahun depan.

Beberapa peraturan kontroversial yang terlontar di tahun 2016 ini dinilai menjadi sebab musabab akan lesunya pertumbuhan bisnis kartu kredit di tahun 2017 nanti, apakah itu mari kita lihat satu per satu.

  1. Peraturan wajib lapor transaksi kartu kredit ke Dirjen Pajak

Di April 2016 lalu, publik terutama pemegang kartu kredit sempat tercengang dengan permintaan Kementrian Keuangan agar diperbolehkan memeriksa data-data transaksi nasabah kartu kredit dari berbagai bank yang ada di Indonesia.

Sontak peraturan ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat pengguna kartu kredit, tapi lebih banyak yang kontra hingga menimbulkan fenomena penutupan kartu kredit secara massal. Bank yang paling terkena dampak penurunan kartu kredit adalah bank besar seperti Bank BCA.

Baca juga: Wajib Lapor Data Transaksi Kartu Kredit ke Ditjen Pajak, Pengguna Kartu Kredit Bakal Menurun?

Pada akhirnya, kebijakan ini ditunda dengan adanya keputusan pemerintah untuk fokus pada tax amnesty. Kebijakan pelaporan ini ditunda hingga tahun depan ketika proses tax amnesty selesai.

Nah, jadi rencana pelaporan data transaksi kartu kredit baru sebatas ditunda ya sobat, belum ada kejelasan apakah akan dilanjutkan atau tidak meski nasabah kartu kredit keberatan. Di tahun 2017 nanti, kewajiban pelaporan data transaksi kartu kredit ini akan dilanjutkan.

Bila rencana ini betul-betul berjalan, maka para pakar perbankan memprediksi akan menurunkan jumlah pemegang kartu kredit.

General Manager AKKI (Asosiasi Kartu Kredit Indonesia), Steve Marta, memperkirakan pertumbuhan jumlah kartu kredit hanya berada di kisaran 3% saja, sementara itu pertumbuhan volume dan nilai transaksi  kartu kredit diperkirakan berada di kisaran 5% di tahun depan.

  1. Peraturan penurunan suku bunga (capping) kartu kredit

Di akhir tahun 2016 ini, pemerintah melalui BI kembali mengeluarkan peraturan yang membuat pihak bank ketar-ketir. BI bersemangat untuk menurunkan suku bunga (capping) kartu kredit dari 2,95% menjadi 2,25% di tahun 2017 nanti.

Kontan kebijakan ini membuat pihak perbankan lumayan ‘gerah’. Pasalnya, dengan pertumbuhan bisnis kartu kredit yang tidak terlalu baik di tahun 2016, ditambah lagi kebijakan memangkas bunga kartu kredit menjadi 2,25% akan memangkas pula pendapatan mereka.

Untuk menghadapi ini, pihak perbankan harus memutar otak agar kebijakan ini tidak akan terlalu banyak memangkas pendapatan mereka, beberapa diantaranya adalah dengan berusaha meningkatkan penggunaan kartu kredit, maupun menekan biaya (overhead) agar tidak merugi.

Kurang lebih dua hal tersebut akan menjadi momok bagi dunia kartu kredit di tahun depan. Namun, meski dihadang problema demikian, pihak perbankan tetap akan mematok target pertumbuhan jumlah kartu kredit, hanya saja memang tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya.

Baca juga: Ajukan Kartu Kredit HSBC dan Dapatkan Bonus Berlimpahnya!

Bank Mandiri misalnya yang hanya berani mematok target pertumbuhan kartu kreditnya di angka 5%, sementara BCA menargetkan pertumbuhan kartu kredit 6%-7%. Lain dengan CIMB Niaga yang berani mematok target pertumbuhan kartu kredit sebesar 15% di tahun 2017 nanti. CIMB Niaga menyambut positif kebijakan penurunan suku bunga kartu kredit, karena menurut pihaknya ini justru akan meningkatkan jumlah pemegang kartu kredit dari kelas Menengah.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2015 Official PilihKartu.com Blog.