Swedia, Negeri Minim Transaksi Tunai

Bila di Indonesia saat ini pemerintah sedang gencar menyuarakan kampanye Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) untuk mensukseskan program cashless society, maka mari kita lihat negara dengan penetrasi kartu kredit yang sudah sangat tinggi. Swedia, merupakan negara dengan penetrasi transaksi non tunai yang sudah tinggi.

Berbeda dengan di Indonesia dimana tipikal negara berkembang masih dengan mudah terlihat, antara lain bisa dilihat dari setiap kebijakan baru yang selalu menuai pro dan kontra hingga ramai menjadi bahan perbincangan. Sama dengan yang terjadi pada kebijakan-kebijakan baru mengenai kartu kredit, penggunaan e-money di toll, hingga top up kartu kredit, yang belakangan sempat membuat ramai media tanah air.

Swedia dapat dibilang negara yang bisa dengan cepat mengikuti perubahan. Dalam artikel di situs finansial.bisnis.com, disebutkan bahwa Swedia menempati urutan keenam di tingkat dunia, dalam urusan kesiapan dan pelaksanaan digital money. Maka tak heran kalau ada kebijakan cashless society, mereka langsung cepat tanggap dan menyesuaikan diri ya.

Jadi bagaimana sih cashless society di Swedia?

Menurut data statistik, transaksi belanja dengan uang tunai di pusat-pusat belanja maupun pertokoan di Swedia kurang dari 20%, artinya 80% lebih masyarakat Swedia belanja menggunakan pembayaran digital, bisa itu kartu kredit dan kartu debit atau uang elektronik. Di tahun 2015, nilai transaksi tunai di swedia bahkan tidak lebih dari 2% bila dibandingkan dengan keseluruhan transaksi di negara tersebut.

Pencapaian Swedia tersebut tidak diraih instan, pasalnya Swedia memiliki infrastruktur keuangan digital yang sudah sangat siap. Dengan menggunakan rekening bank, kartu debit dan kartu kredit berlogo VISA maupun MasterCard, transaksi non tunai bisa dilakukan dengan optimal di sana.

Bahkan, e-wallet maupun e-money tidak dikenal di sana. Untuk menggunakan transportasi umum seperti bus, kereta dan tram sudah tersedia satu kartu khusus yang berlaku untuk ketiga moda transportasi tersebut.

Supermarket bahkan sudah tidak menggunakan kasir lagi, pengunjung membayar secara mandiri menggunakan alat yang telah disediakan. Alat pembayaran bisa menggunakan kartu debit dan kartu kredit. Ini bukti bahwa Swedia telah mempersiapkan infrastruktur untuk pembayaran digital dengan baik, sehingga penetrasi transaksi non tunai bisa berjalan dengan baik.

Membeli tiket bus bisa menggunakan aplikasi mobile, menyimpan tiket tersebut dalam bentuk QR Code di smartphone, kemudian petugas bus akan memindai QR code pada smartphone kita dengan suatu alat. Sistem serupa juga diterapkan pada tiket bioskop. Suatu kemudahan yang sangat menghemat waktu dan tenaga, serta menghemat kertas untuk mencetak tiket.

Nah, kira-kira kapan ya Indonesia bisa semaju Swedia dalam urusan kesiapan infrastruktur dan mental?

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2015 Official PilihKartu.com Blog.