Tujuh Fintech Lending Ini Akhirnya Kantongi Ijin dari OJK

Fintech lending belakangan ini makin marak kita temukan. Kali ini, ada tujuh fintech lending peer to peer yang berhasil mengantongi ijin permanen dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Bila sudah mengantongi ijin dari OJK, hampir dapat dipastikan fintech-fintech tersebut aman digunakan jasanya bila dibandingkan yang belum berijin dari OJK.

Ketujuh fintech lending peer to peer tersebut antara lain adalah Tokomodal, UangTeman, Danamas, Investree, Amartha, Dompet Kita dan KIMO. Adapun Tokomodal (produk dari PT Toko Modal Mitra Usaha) dan Uang Teman (produk dari PT Digital Alpha Indonesia) baru mendapatkan ijin dari OJK pada akhir Mei 2019, sehingga terhitung masih sangat baru ijinnya.

Dengan dikeluarkannya ijin bagi ketujuh fintech lending peer to peer di atas, maka total perusahaan yang sudah terdaftar dan mengantongi ijin dari OJK menjadi sebanyak 113 perusahaan. Adapun perusahaan yang baru terdaftar saja di OJK ada 106 perusahaan.

 

Ijin OJK Sulit untuk Didapatkan

Kewajiban fintech lending peer to peer untuk mendapatkan ijin dari OJK merupakan langkah OJK sebagai regulator resmi pemerintah dalam menanggulangi maraknya penipuan. Bila sudah terdaftar dan mengantongi ijin dari OJK, maka OJK bisa mengawasi kerja fintech tersebut. Bila ada permasalahan di kemudian hari, maka nasabah juga bisa melapor ke OJK.

Untuk mengantongi  ijin dari OJK ternyata tidak mudah. Ada berbagai persyaratan yang harus dilengkapi oleh perusahaan. Direktur Pengaturan Perizinan dan Pengawasan Fintech OJK Hendrikus Passagi menyebutkan ada beberapa pertanyaan yang akan diajukan oleh regulator kepada calon fintech legal.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan dijadikan pertimbangan bagi OJK untuk memberikan tanda terdaftar bagi calon fintech legal. Bila sudah mendapatkan tanda terdaftar ini maka tentu saja fintech lending dapat beroperasi dengan tenang tanpa memikirkan embel-embel ilegal.

Pertanyaan-pertanyaaan tersebut misalnya saja, masalah apa yang ingin diselesaikan oleh fintech lending. OJK perlu mengetahui ini agar bisa menjadi pertimbangan. Bila fintech tidak bisa menjawab, maka OJK boleh saja berpikiran bahwa fintech mencari tanda terdaftar hanya untuk memburu pendanaan start up, misalnya.

Lalu ada juga pertanyaan-pertanyaan mendasar lainnya seperti visi misi perusahaan, program kerja yang dipunyai apa, ekosistem perusahaan seperti apa, siapa yang akan menjadi peminjam/nasabah, lalu bagaimana mekanisme kerja produk, dsb.

Bagi OJK, Fintech Lending Bisa Bermanfaat

Bagi sebagian masyarakat, fintech lending peer to peer bisa menjadi malapetaka. Ia menjadi malapetaka bila nasabah tidak mampu membayar hutang atau cicilan karena bunga yang dikenakan sangatlah tinggi.

Hal di atas memang tak bisa dipungkiri, akan tetapi bagi OJK fintech lending  sebetulnya bisa bermanfaat. Fintech lending bila sudah berkembang dengan baik maka berpotensi menjangkau masyarakat yang tidak terjangkau pembiayaan oleh perbankan.

Hendrikus menyebutkan di Indonesia ada 150 juta UMKM akan tetapi 40 juta di antaranya ternyata tidak punya rekening bank. Selain itu, ia menyebutkan ada potensi Rp 400 triliun sementara penyaluran dana pinjaman oleh fintech lending sekarang ini baru di angka Rp 37 triliun.

Hendrikus akan sangat menyayangkan bila 113 perusahaan fintech lending peer to peer yang telah terdaftar di OJK tersebut kurang dapat memanfaatkan tanda daftarnya. Apalagi bila ternyata mengejar tanda terdaftar hanya untuk mendapatkan pendanaan.

 

 

 

Loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2015 Official PilihKartu.com Blog.