6 Kebiasaan Buruk dalam Berkartu Kredit yang Sebaiknya Anda Hilangkan

Kartu kredit sudah menjadi barang yang lumrah di kehidupan masyarakat, terutama untuk mereka yang tinggal di kota-kota dimana mesin EDC lebih banyak tersedia, maka transaksi kartu kredit akan banyak juga terjadi di sana.

Sayangnya, semakin berkembangnya transaksi menggunakan kartu kredit, semakin banyak pula orang-orang yang terjebak dalam beberapa kebiasaan buruk dalam berkartu kredit. Dan kebiasaan buruk sudah selayaknya dihindari oleh pemegang kartu kredit manapun. Beberapa kebiasan buruk tersebut antara lain:

1. Tidak pernah memeriksa limit kartu kredit

Setiap bulannya, pemegang kartu kredit mendapatkan sejumlah limit kartu kredit yang bisa ia gunakan untuk bertransaksi. Semisal Ani memiliki limit kartu kredit 4 juta per bulan, maka sejumlah itulah Ani dapat membelanjakan kartu kreditnya setiap bulannya.

Tapi, terkadang pemegang kartu tidak pernah memeriksa limit kartu kredit manakala ia hendak berbelanja. Usahakan sebelum berbelanja, periksa dulu limit kartu kredit supaya tidak terjadi overlimit kartu kredit. Barangkali ada transaksi di bulan sebelumnya yang belum lunas, atau ada transaksi cicilan kartu kredit selama beberapa bulan yang mengakibatkan terpotongnya limit bulanan.

2. Lebih suka mengandalkan minimum payment daripada full payment

Minimum payment adalah metode pembayaran tagihan kartu kredit dengan jumlah minimum dari total tagihan. Biasanya besar minimum payment adalah 10% dari total tagihan (tergantung bank), jadi semisal Ani memiliki tagihan kartu kredit bulan September 2016 sebesar 4 juta, maka jumlah minimum tagihan yang bisa ia bayarkan adalah 4 juta x 10%= 400ribu.

Memang, terlihat menyenangkan ketika kita bisa belanja 4 juta tapi bulan ini hanya perlu membayar 400ribu dulu. Tapi jeleknya, pembayaran dengan minimum payment akan dikenai bunga sebesar 3% (besar bunga tergantung masing-masing bank).

Sementara itu, full payment adalah pembayaran tagihan dengan melunasi keseluruhan hutang kartu kredit pada bulan tersebut. Semisal Ani memakai kartu kreditnya sebesar 4 juta pada bulan September, maka ketika tagihan bulan September datang sejumlah 4 juta, maka ia akan melunasinya secara total, dan tidak akan ada bunga apapun untuk ini.

3. Telat membayar tagihan

Ada dua hal yang perlu diperhatikan pemegang kartu kredit, pertama adalah tanggal cetak tagihan, dan kedua adalah tanggal jatuh tempo pembayaran tagihan. Tanggal cetak tagihan adalah tanggal dimana tagihan kartu kredit pada bulan berjalan dicetak oleh bank dan dikirimkan kepada pemegang kartu kredit dalam bentuk lembar tagihan yang disebut billing statement. Tagihan ini bisa dikirim via email atau via pos tergantung permintaan nasabah, pengiriman tagihan via pos akan memakan biaya cetak umumnya sebesar 10ribu.

Sementara itu, tanggal jatuh tempo adalah batas tanggal dimana pembayaran tagihan kartu kredit oleh nasabah kartu kredit diterima oleh bank. Jarak waktu antara tanggal cetak tagihan hingga tanggal jatuh tempo umumnya 15-20 hari (tergantung bank). Artinya pemegang kartu kredit punya waktu 15-20 hari untuk melunasi tagihan.

Oleh karena jarak waktunya cukup lama, jangan sampai terlambat dalam membayar tagihan kartu kredit, karena akan ada biaya keterlambatan pembayaran tagihan.

4. Kartu kredit dijadikan sumber uang tunai

Ini dia yang agak melenceng, karena kartu kredit adalah alat ganti pembayaran uang tunai. See? Intinya, kartu kredit diciptakan supaya orang tidak perlu lagi keluarin uang tunai untuk bayar belanjaan, nah kalo sekarang pakai kartu kredit buat sumber dana tunai? Jelas, pihak bank tidak akan begitu suka, biarpun mereka tetap memperbolehkan tarik tunai di ATM.

Hanya saja, jelas ada biaya untuk setiap penarikan tunai yang dilakukan di ATM menggunakan kartu kredit, dan biayanya tidak sedikit lho. Rata-rata sekitar 50.000 atau 3-6% dari jumlah penarikan, nah lumayan gede kan tuh! Mending dihindari saja deh.

5. Tidak membaca laporan kartu kredit

Selain mengetahui jumlah tagihan yang harus dibayar, billing statement hendaknya tidak berhenti di situ saja fungsinya. Pemegang kartu kredit dianjurkan untuk mempelajari billing statement yang dikirimkan setiap bulannya, supaya ia bisa meninjau sendiri aktivitas kartu kreditnya. Bukan tanpa alasan, bisa saja ada kesalahan yang terjadi lho.

Jika ada kesalahan atau transaksi mencurigakan, pemegang kartu kredit bisa melaporkannya ke bank penerbit kartu kredit.

6. Kartu kredit tidak pernah dipakai

Ini lucu juga, kenapa kartu kredit yang tidak dipakai jadi kebiasaan buruk yang harus dihindari? Logikanya, bank memercayakan kartu kredit kepada nasabah karena dinilai nasabah tersebut memang layak untuk diberi fasilitas kredit. Artinya, secara finansial seseorang yang dipilih bank tersebut memang butuh kartu kredit, dan bertanggung jawab untuk itu.

Lalu bagaimana bila bank sudah memberikan kartu kredit tapi si pemegang kartu tidak pernah menggunakannya? Kan bank bisa berpikir,'Mending kasihkan kartu kreditnya ke orang lain yang lebih membutuhkan'. Bagaimanapun, sumber pendapatan dari transaksi kartu kredit ya bila ada nasabah yang aktif menggunakan kartu kreditnya, bila tidak ada transaksi maka pemasukan bank juga tidak bagus. Nah, jadi salinglah bersimbiosis mutualisme dengan bank untuk urusan ini.

 

 


Komentar untuk 6 Kebiasaan Buruk dalam Berkartu Kredit yang Sebaiknya Anda Hilangkan

Related Article
Bila anda sedang jalan-jalan ke mall, ke hotel, su...
Nama VISA dan MasterCard tentunya sudah familiar d...